Resmi, Persib Bandung Akhirnya Lepas Michael Essien


Didatangkan dengan biaya sangat fantastis pada tahun 2017 lalu, Persib Bandung akhirnya memilih melepas Michael Essien. Sekedar informasi, saat itu Amougou Mathieu selaku sang agen membocorkan jika Essien dibanderol dengan nilai Rp 8,5 miliar seperti dilansir simamaung. Mantan pemain Timnas Ghana itu memang memiliki kualitas Eropa sehingga kedatangannya ke Persib sempat menggemparkan jagat sepakbola Indonesia karena harga transfer yang luar biasa mentereng.

 

Namun kebersamaan Essien dan Persib rupanya hanya setahun saja. Pada 5 Juni 2018 kemarin, Persib resmi melepaskan Essien yang berstatus sebagai Marquee Player itu. Setahun bersama Persib, Essien yang sembilan tahun memperkuat Chelsea itu mempersembahkan lima gol. Status Essien di Persib memang tak menentu karena pelatih Mario Gomez lebih memilih penyerang asal Argentina, Jonathan Bauman di klub.

 

Umuh Muchtar selaku manajer Persib kepada detikSport tidak bersedia menjelaskan secara rinci perihal keputusan pemutusan kontrak di tengah musim. Namun perpisahan ini terjadi dengan sangat baik. Umuh pun tak tahu ke mana Essien akan berlabuh dan malah menyebutkan kalau pria berusia 35 tahun itu bakal pensiun dari sepakbola.

 

Namun Mathieu kepada Indosport membocorkan jika Essien akan kembali ke Inggris dan berlatih bersama Chelsea meskipun ada banyak sekali tawaran klub yang datang. Mathieu pun menjelaskan jika Essien terpaksa dilepas Persib karena kuota pemain asing Maung Bandung sudah penuh setelah kedatangan Bauman. Sebagai pemain profesional, Mathieu pun menghormati keputusan Persib.

 

Mario Gomez Minta Tiga Pemain Baru

 

Setelah melepas Essien, Persib kini tengah berjuang memperbaiki performa mereka supaya bisa naik ke papan atas klasemen sementara Liga 1 Indonesia musim 2018. Saat ini Persib nyaman di peringkat tujuh dengan 18 poin dari 11 kali pertandingan. Posisi pertama masih dikuasai PSM Makassar dengan 24 poin dari 13 pertandingan. Bukan tak mungkin Gomez mampu membawa Persib merangsek ke papan atas dan pemuncak klasemen karena masih ada dua pertandingan tunda.

 

Demi menambah daya gedor, Gomez kabarnya meminta tiga pemain baru ke manajemen Persib. Teddy Tjahjono selaku Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) mengaku siap mendukung penuh rencana pelatih asal Argentina itu. Meskipun begitu Teddy menilai bukan hal mudah mendatangkan pemain incaran di paruh musim karena kebanyakan sudah terikat kontrak dengan klub lain.

 

Ambisi Persib Bangun Kompleks Olahraga Internasional

 

Bisa dibilang kalau Persib saat ini menjelma sebagai klub togel online terkaya di Indonesia. Dilansir Transfermakt, Persib memiliki nilai hingga Rp 71 miliar, jauh di atas PSM Makassar di posisi kedua dengan Rp 59,2 miliar. Tak heran kalau Persib memiliki ambisi baru yakni membangun kawasan olahraga berstandar internasional dengan fasilitas lengkap di dekat Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

 

Kompleks olahraga sekaligus museum yang kabarnya bernama Kampung Persib itu akan jadi pusat aktivitas Persib ke depannya. Tak main-main, kabarnya PT PBB sudah membeli 10 hektar tanah secara bertahap di sekitar GBLA. Teddy membeberkan kalau nantinya Kampung Persib bisa jadi tujuan wisata yang diharapkan bisa selesai dalam waktu tiga tahun ke depan. Demi ambisi itu, Persib sampai merujuk ke stadion Etihad milik Manchester City. Jika nantinya kompleks olahraga itu sudah selesai dibangun, maka GBLA akan mengikuti jejak Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Jakarta milik Persija dan Jakabaring miilik Sriwijaya FC di Palembang.

Real Madrid Jumpa Liverpool di Final Liga Champions 2018


Penantian para penggemar sepakbola di seluruh dunia terjawab sudah. Final Liga Champions musim 2017/2018 ini mempertemukan dua tim raksasa asal Spanyol dan Inggris. Mereka adalah Real Madrid dan Liverpool yang uniknya, sama-sama bukan juara liga domestik negara masing-masing, tapi berhasil menembus babak final kompetisi antarklub tertinggi di Eropa.

 

Tidak digelar di negara masing-masing, babak final Liga Champions judi bola akan dilangsungkan di stadion NSC Olimpiyskiy di ibukota Ukraina, Kiev pada hari Minggu (27/5) dini hari WIB. Madrid berhasil kembali masuk ke partai puncak usai di babak semifinal menyingkirkan raja Bundesliga Jerman, Bayern Munich hari Rabu (2/5) dini hari WIB. Meskipun bermain imbang 2-2 dengan Bayern di Bernabeu, anak asuh Zinedine Zidane itu lolos berkat unggul agregat 4-3.

 

Sementara itu, Liverpool meraih tiket final usai menyingkirkan AS Roma di Italia hari Kamis (3/5) dini hari WIB. Meskipun kalah 2-4, The Reds berhak jadi lawan Madrid lantaran unggul agregat 7-6. Pertemuan Madrid dan Liverpool tentu akan jadi sangat menarik karena masing-masing tim punya misi sendiri. Tak heran kalau petinggi Liverpool menjanjikan akan mengguyur para pemainnya dengan bonus 750 ribu poundsterling (sekitar Rp 14,1 miliar) jika juara. Tak mau kalah, Madrid sebagai salah satu klub terkaya di dunia menjanjikan bonus hingga 1 juta poundsterling (sekitar Rp 18,8 miliar) untuk pemainnya jika mampu juara lagi.

 

Menyadari kalau kedua finalis memiliki suporter yang sangat fanatik, UEFA pun menyediakan jatah tiket untuk masing-masing adalah 16.626 lembar. Hanya saja jika ditotal, tiket itu hanyalah 32 ribuan, dan jauh lebih sedikit dari kapasitas stadion NSC yang mencapai 63 ribu untuk babak final Champions 2018.

 

Ambisi Madrid Untuk Gelar ke-13

 

Jika boleh melihat sejarah klub, Madrid tentu lebih unggul dibandingkan Liverpool. Karena ini akan jadi final keempat dalam lima tahun terakhir bagi Los Blancos. Madrid bahkan tiga kali beruntun menatap final sejak 2016 hingga 2018 ini dengan berhasil menyabet juara di dua final sebelumnya. Tak heran kalau kali ini Cristiano Ronaldo dkk berambisi meraih La Decimotercera, gelar Liga Champions ke-13.

 

Sepanjang sejarah, Madrid dan Liverpool baru lima kali berjumpa dengan sekali di era Piala Champions dan empat sisanya di Liga Champions. Dalam empat pertemuan kompetisi modern, rekor mereka seri yakni Liverpool pernah menang di musim 2009 dengan agregat 5-0 dan Madrid menang dengan agregat 4-0 di musim 2015.

 

Liverpool Pernah Kalahkan Madrid di Final Champions

 

Madrid memang punya catatan rekor bagus yakni tak pernah kalah dalam enam partai final terakhir Liga Champions. Mereka mencatat kekalahan terakhir di musim 1981 saat kompetisi berformat Piala Champions. Dan yang unik, tim yang mengalahkan Madrid saat itu adalah Liverpool. Tak heran kalau dalam pengulangan final 37 tahun lalu ini, Liverpool dijagokan bakal memutus dominasi Madrid di Champions.

 

Juergen Klopp selaku manajer The Reds sadar betul dengan kualitas Madrid. “Maju ke final sangat menyenangkan, tapi memenangkannya jauh lebih menyenangkan. Kami sangat siap, tapi lawan kami adalah Madrid dan tidak ada yang lebih berpengalaman di kompetisi ini daripada Madrid. 80% pemain mereka bermain di final, tapi kami akan benar-benar on fire.”

Meski Menang Lawan Singapura, Timnas U-23 Masih digentayangi Masalah Klasik


Kabar baik datang dari Timnas Indonesia U23 yang sukses mengalahkan Timnas Singapura dengan skor cukup fantastis yakni 3-0 pada Rabu malam (21/3) waktu setempat. Ada 3 gol yang berhasil dicetak oleh tim arahan Luis Milla yakni gol yang dicetak oleh Septian David Maulana, Muhammad Hargiyanto, dan Febri Hariyadi. Tentu saja itu adalah sebuah hasil yang menggembirakan yang diraih oleh skuat Merah Putih. Akan tetapi skuat Garuda pasalnta masih saja digentayangi oleh masalah klasik yang sama dan masih juga belum bisa dipecahka oleh Milla.

Masalah Pertama: Krisis Striker

Masalah klasik yang terus saja menjadi masalah yang belum ada jalan keluarnya adalah masalah krisis striker. Ezra Walian yang mana sekali lagi mendapatkan kesempatan sebagai starter ketika melawan Singapura pun tak bisa bermain bagus semalam. Bomber dari Almere City itu nampaknya masih tumpul dalam memanfaatkan beberapa peluang. Salah satu buktinya yang sangat nyata adalah peluang emas bursatogel yang ada di menit ke-25.

Ezra yang pada saat itu mendapatkan umpan yang jauh, tidak bisa mencetak gol. Tendangannya sayang sekali masih bisa ditepis oleh kiper Singapura, Zharfan Rohaizad. Padahal peluang itu jelas dan nyata, ia tinggal berhadapan saja dengan Zharfan. Hal itu lah yang membuat Milla mencari lagi sosok striker yang pantas dan tepat namun kembali mentah lagi. Timnas Indonesia nampaknya lagi dan lagi hajya mengandalkan para pemain gelandangnya saja ketimbang strikernya.

Hal ini bisa dibuktikan saat kita menengok kembali 3 gol yang tercipta pada laga tadi malam. Tiga gol tersebut malahan disumbangkan oleh para gelandang yang menjadi andalan.

Sebenarnya Milla sempat memanggil 1 striker lagi yakni Ahmad Nur Hardianto. Akan tetapi sayangnya, Ahmad tidak sampai ikut ke Singapura karena dirinya sedang menderita penyakit herma.

Di pertandingan-pertandingan sebelumnya, pelatih asli Spanyol itu juga sempat mempercayakan tugas tukang bobol gawang pada Marinus Wanewar di ajang SEA Games 2017 di Malaysia. Walau demikian, Milla pun nampak kurang puas dengan kinerja dan performa daro pemain yang berasal dari Papua tersebut.

Lalu ia memanggil striker naturalisasi yang berasal dari Montenegro yakni Ilija Spasojevic di beberapa kesempatan uji coba termasuk pada turnamen Tsunami Cup tahun 2018. Namun lagi-lagi Milla nampaknya masih saja belum yakin.

Mantan pemain klub Real Madrid dan Barcelona ini juga beberapa kali menjalankan strategi ‘false nine’ atau juga memasang gelandang serang di posisi striker.

Misalnya saja Ilham Udin Armaiyn yang sering sekali menjadi langganan striker dadakan. Bahkan di babak kedua juga Ilham dimainkan untuk menggantikan Ezra menjadi striker dadakan.

Masalah Kedua: Tak Ada Pelapis Play-Maker

Satu lagi masalah yang ada pada klub Garuda ini yakni tidak adanya pelapis play-maker. Evan Dimas yang absen pada laga malam tadi membuat Milla harus putar otak lagi karena tim Garuda mengalami ujian.

Lalu Milla mencoba untuk memasukkan Saddil ke belakang striker dengan maksud dan tujuan Saddil bisa menjadi pengatur serangan yang mana meneruskan aliran bola dari depan, tengah, dan juga belakang.

Namun sayangnya upaya tersebut juga kerap sekali mandek. Gol semata wayangnya Timnas Indonesia di babak pertama yang mana diciptakan oleh Febri pun bukan berdasarkan skema permainan. Pemain dari Persib tersebut membobol gawang Timnas Singapura lewat tendangan jarak jauh di luar kotak penalti.