Tutup 182 Toko di AS, Toys R Us Umumkan Sudah Bangkrut


Kemajuan teknologi memang membuat banyak orang memilih belanja online ketimbang harus datang ke supermarket atau toko-toko ritel lainnya. Hal ini rupanya menggerus bisnis jaringan ritel yang sudah makin banyak gulung tikar. Salah satunya adalah jaringan toko mainan Toys R Us yang sudah mendeklarasikan diri mengalami kebangkrutan. Tak main-main, Toys R Us akan menutup sebanyak 182 tokonya di seluruh Amerika Serikat setelah keputusan pengadilan.

 

Perjalanan panjang Toys R Us di seluruh dunia sebetulnya sudah berlangsung hampir 70 tahun terakhir. Dilaporkan jika ada 1.600 jaringan Toys R Us secara global dengan 880 di antaranya ada di Amerika Serikat. Pengacara perusahaan Toys R Us menyebutkan kalau keputusan menutup toko karena meningkatnya kompetisi dan perpindahan cara berbelanja konsumen secara online, seperti dilansir CNN.

 

Dave Brandon selaku CEO Toys R Us menyebutkan kalau rencana penutupan toko mereka di Amerika Serikat akan menanti keputusan pengadilan di awal bulan Februari hingga akhir April nanti. Setelah kebangkrutan ini, jaringan bisnis Toys R Us akan berpindah menjadi toko dengan merk baru (co-branded) Toys R Us dan Baby R Us. Sementara itu dengan cabang di luar Amerika Serikat tidak akan terlalu berpengaruh seperti 83 toko di Kanada yang masih beroperasi seperti biasa.

 

Tutupnya Toys R Us di AS ini menambah daftar panjang momen buruk ritel-ritel di Negeri Paman Sam pada tahun 2017 di mana sedikitnya ada 7.000 peritel tutup. Namun ternyata ada juga peritel Togel Pelangi yang sukses dan toko di lokasi yang menjanjikan.

 

Masih Ada Peritel Ogah Pindah Online

 

Ambruknya bisnis Toys R Us di Amerika Serikat seolah membuktikan kalau bisnis ritel benar-benar terhantam oleh bisnis online alias daring. Bahkan di Indonesia sendiri, sudah banyak gerai ritel yang terpaksa bangkrut. Namun hal itu tak membuat semua pengusaha ritel di Tanah Air mau berpindah ke toko daring. Hal ini dibenarkan oleh Roy Mandey selaku Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang menyebutkan kalau ada lima hingga enam persen peritel Aprindo yang masih tak mau pindah ke bisnis daring.

 

Salah satu alasannya adalah mereka masih setia dengan bisnis konvensional. “Mereka masih nyaman dengan toko offline-nya karena mungkin itu turun temurun. Mereka biasanya toko serba ada atau toko kelontong dan sudah punya pelanggan tetap. Mereka pun sudah nyaman dengan hasil yang diperoleh dan kebanyakan ada di daerah-daerah. Memang, jadi pekerjaan rumah dari Aprindo untuk meyakinkan mereka bahwa tidak bisa lama lagi seperti ini.”

 

Aprindo Ramalkan Akan Ada Ritel Leisure

 

Menatap tahun 2018, industri ritel memang harus melakukan inovasi jika mau bertahan. Aprindo memprediksi jika usaha ritel di tahun 2018 akan marak dengan penggabungan antara toko ritel dengan fasilitas yang bersifat mengisi waktu luang (leisure). Beberapa pengusaha ritel sudah melirik kemungkinan ini mengingat kebutuhan akan Leisure Economy yang terus meningkat.

 

Jika dulu masyarakat belanja hanya untuk memenuhi kebutuhan, saat ini lebih mengarah ke pengalaman berbelanja. Tak heran kalau akhirnya kini banyak supermarket yang mulai melengkapi gerainya dengan toko kopi hingga wahana permainan anak-anak. Hal ini membuat meski tiap ritel menawarkan produk yang sama, pembeli tetap akan merasakan pengalaman belanja berbeda. Perubahan kebutuhan ini membuat beberapa pengusaha merelokasi gerainya ke tempat yang lebih luas demi membangun sarana hiburan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *